New Normal

New Normal Wajah Pendidikan Kita

oleh: Agus Anang Fatoni

 

fotokuprofilSaat ini, hampir bisa dipastikan bahwa kita akan “dipaksa” memasuki kondisi sosial budaya dalam kondisi “New Normal”. Begitu banyak teori yang membahas tentang New Normal ini. Sehingga saya tidak akan membahas tentang hal New Normal itu sendiri. 

Segala lini sendi kehidupan tentu akan mengalami sesuatu yang baru dalam menyikapi keadaan saat ini. Tak terkecuali dunia pendidikan. Dalam dua bulan terakhir ini saja, kita yang bergerak di dunia pendidikan “dipaksa” mengubah gaya mengajar dan belajar pada siswa kita. Dengan segala pernak perniknya, akhir kitapun mulai beradaptasi.

Bukan hanya sekolah dan siswanya, lebih jauh lagi orangtua juga berpikir seratus kali lipat. berpikir tentang kondisi ekonomi keluarga dan juga dipaksa mesti mendampingi putra putrinya dalam belajar dirumah. Mencoba menerjemahkan tugas tugas dari sekolah. yang ditransfer oleh guru lewat media yang terkadang juga masih gagap untuk dipelajari oleh guru itu sendiri. Pada akhirnya fitrah orangtua sebagai guru utama akhirnya dikembalikan kepada orangtua, yang sebelumnya fitrah mengajar itu 5-8 jam biasanya dititipkan pada sekolah.

Perubahan itu pasti terjadi itulah kehidupan. Hanya orang orang yang “menikmati hidup” akan mampu bertahan dan melewati perubahan itu. Bagaimana menyiapkan mental bisa menikmati hidup itupun sudah banyak diajarkan oleh kehidupan, Agama dan juga budaya kita sendiri.

Beberapa teori menyatakan, kecakapan hidup hampir 80% (soft skill) sebagai bekal utama seorang anak dapat survive dalam kehidupan nanti. Knowladge itu hanya dibutuh 20% (hard skill). Kecakapan hidup yang memegang kendali terbanyak itu akan sangat optimal didapat seorang anak dari belajar di rumah bersama orangtua dan lingkungannya, sementara Knowladge terbanyak didapat dari sekolah meskipun tidak menutup kemungkinan didapat diluar sekolah.

Teori ini sejatinya sudah lama hingga pemerintahpun harus luwes berbenah terhadap kurikulum yang dicanangkannya, mulai CBSA, KBK, KTSP hingga K13, hampir semua kurikulum ini menyesuaikan dengan kebutuhan dijamannya, meskipun dalam prakteknya masih belum mampu mengejar perubahan situasi dilingkungan yang perkembangannya sungguh luar biasa.

Teori akan kebutuhan 80% itu, hari ini akan lebih dahsyat untuk disegerakan diterapkan dalam menghadapi masa New Normal ini. Anak anak belajar dari kondisi lingkungan (dari Alam) sekitarnya. contextual teaching and learning, project based learning, problem based learning dan cooperative learning, akan menjadi strategi belajar yang perlu ditekankan dalam mendampingi anak anak zaman New Normal dan perubahannya kelak. (admin)